Konspirasi Tren Baper Gara-gara Dilan 1990

Siapa yang belum nonton film Dilan 1990? Tenang aja, HAHO gak mau kasi spoiler soal film-nya kok…HAHO lebih tertarik dengan demam yang mewabah akibat film fenomenal yang tayang di awal tahun 2018 ini. Gimana gak fenomenal? Cuma dalam 2 minggu penayangan, film ini mampu menyedot 4.5 juta penonton! (update per tanggal 9 Februari 2018). Fantastis.

Jumlah penonton memang bisa menjadi bukti kesuksesan sebuah film. Tapi yang menjadikan film yang kabarnya diangkat dari kisah nyata ini menjadi semakin menarik adalah efek yang ditimbulkan kepada penikmatnya. Tolak ukur kesuksesan sebuah film tentunya dapat dilihat dari kesan yang mendalam yang dirasakan oleh penikmatnya, bukan saat mereka masih duduk di kursi bioskop, namun dimulai sesaat setelah mereka keluar dari bioskop. Apakah film itu cuma jadi ‘just another movie‘ atau bakal menjadi sesuatu yang mereka perbincangkan terus menerus, hingga melakukan komparasi terhadap kehidupan nyata penontonnya setiap hari. Nah, film Dilan 1990 ini bisa dibilang berhasil merangkum poin yang terakhir.

Bernard Batubara beropini membandingkan fenomena AADC dengan Dilan 1990.

Lalu kira-kira apa ya, yang bikin film ini bisa dikatakan meraih sensasi yang hampir mirip seperti Ada Apa Dengan Cinta yang dirilis 16 tahun lalu ini? Yuk kita liat ulasannya:

Banyak yang membandingkan film Dilan 1990 dengan AADC. Kamu tim yang mana? (sumber foto: Okezone.com)

1. Menukil rasa penasaran karena diangkat dari kisah nyata

Sejak bukunya keluar tahun 2015 lalu, penulisnya, Pidi Baiq, sudah menyatakan bahwa cerita ini diangkat dari kisah nyata. Yang terjadi adalah, semua orang yang sudah membaca bukunya dan menonton filmnya jadi sibuk menebak-nebak figur asli Dilan, Milea, Piyan, Nandan, dan lainnya. Milea Adnan Hussain diduga sudah muncul ke permukaan.

Diunggah dalam salah satu akun instagram, sketsa dalam buku Dilan 1990 dibandingkan dengan salah satu foto yang diambil dari akun twitter @MileaAdnan yang diduga sebagai akun Milea Adnan Hussain yang asli (sumber: instagram @pidibaiqquotes)

Bahkan foto-foto dan akun twitter serta percakapannya dengan sang penulis juga menyedot perhatian karena kesamaan wajah dan penggunaan bahasa. Setelah kamu baca bukunya dan nonton filmnya, hampir bisa dipastikan kamu akan mencari tahu mengenai identitas asli tokohnya.

Akun @MileaAdnan di tahun 2015 yang mengekspresikan perasaannya terhadap hari jadi Dilan dan Milea (sumber foto: Twitter)

Bahkan ada satu komunitas yang membuat Vlog khusus dengan judul “Ekspedisi Mencari Dilan Milea”. Pidi Baiq pun bisa dianggap sangat sukses mengaburkan jejak dan menggugah rasa penasaran penikmat buku dan film Dilan melalui fakta ini, walau dalam post instagram terakhirnya baik Iqbaal Ramadhan dan Pidi Baiq juga mengklarifikasi bahwa identitas tokoh aslinya sampai sekarang belum diketahui sama sekali, kalau pun ada, ya orang yang ngaku-ngaku aja.

2. Diangkat dari trilogi buku yang meraih Best Seller

Tidak ada yang lebih menarik daripada cerita yang alurnya dibuat menggantung, dan dilanjutkan dengan indahnya sehingga mampu memberi rasa puas tidak secara sekaligus, namun sedikit demi sedikit, hingga akhirnya menimbulkan rasa ingin tahu yang lebih dalam, namun di sisi lain juga berhasil meredam ketidakpuasan karena semua pembaca atau penontonnya mengetahui ujung kisah cinta legendaris antara Dilan dan Milea.

Tiga buku yang merangkum kisah Dilan dan Milea yang telah lebih dulu sukses di pasar. (sumber foto: Krokettahu)

Setidaknya dengan adanya sequel, penonton seakan diberi kesempatan untuk ‘bertemu lagi’ dengan tokoh-tokoh dalam cerita Dilan dan Milea yang berhasil memikat hati penikmatnya. Hal ini bisa diraih dengan continuity yang berhasil dipertahankan, yang di sisi lain menjadi tantangan bagi penulis dan tim produksi untuk bisa membuat penontonnya ‘sabar menunggu’. Efeknya adalah, pecinta film ini lebih memilih untuk menonton ulang film yang masih tayang ini, karena sebenarnya mereka juga tidak sabar menunggu sequelnya.

Gimana dengan kamu? Cukup sabar menanti Dilan #2 diproduksi dan ditayangkan?

3. Relevansi rentang usia yang luas

Oke. Kita bagi jenis penonton Dilan 1990 yang membeli karcisnya, menyebarkan beritanya, atau mereka yang ikut-ikutan setelah mendengar ceritanya.

1. Generasi muda jaman now yang menemukan keunikan tokoh Dilan yang romantis, gombal, nakal, namun pintar. Mereka-mereka ini terbuai dengan karakter Dilan yang berhasil memikat hati Milea dengan cara-caranya yang unik dan jarang dipikirkan orang hingga mereka bisa merelevansikannya dalam kehidupan nyata, sehingga penonton yang rata-rata didominasi kaum hawa ini mampu berkata “Sisain satu yang kayak gini!”, atau “Pengen banget digombalin sama cowok kayak Dilan”, atau “Relationship goals!”, atau cukup dengan satu kata: BAPER!

Generasi muda ini juga mungkin melihat telepon umum atau pesawat telepon rumah menjadi hal yang sangat asing. Bagaimana rasanya tidak selalu terkoneksi atau menanyakan kabar lewat smartphone dan berbagai aplikasinya. It’s really out of their mind! Mungkin hal seperti ini yang membuat cara-cara unik ala Dilan harus ditempuh untuk dapat menjalankan hubungan di masa itu.

Komentar netizen mengenai film Dilan 1990 yang diramaikan oleh abg dan remaja masa kini (sumber: twitter)

2. Generasi seangkatan Dilan dan Milea yang punya background cerita mirip (yang sekarang berusia 30-40an). Kekuatan cerita Dilan dan Milea adalah karena settingnya dituturkan sespesifik mungkin sehingga penonton yang duduk di bangku SMA tahun 90-an dapat melakukan afirmasi bahwa semua itu memang ada di masa mereka muda. Generasi ini akan sibuk membicarakan film Dilan dan Milea dengan teman-teman lamanya sambil bernostalgia. Generasi yang sudah lama tidak merasakan gairah cinta muda yang sepele namun merekam jejak terkuat karena seringnya, hal itu yang membentuk mereka hingga menjadi seperti sekarang. Kekuatan sosial media pun jadi peran terpenting dalam kesuksesan film ini. Generasi yang ini akan sibuk memposting foto-foto lama mereka lalu menjadikannya parodi untuk sekedar mengapresiasi atau ajang ikut-ikutan semata.

Dilan 1990 juga menjangkiti mereka-mereka yang pernah muda di tahun 90-an (sumber: instagram Valerina Daniel)

4. Cerita yang sederhana, dituturkan dengan mudah dan gak njelimet

Ada yang bilang, cerita dalam film ini dituturkan dengan aneh –terlalu sederhana sehingga membuat film Dilan ini terlihat ‘receh’ atau seperti nonton FTV. Guess what, kesederhanaan penuturan kata dan alur cerita membuat film Dilan 1990 mudah dicerna dan membuat penonton tidak butuh untuk mikir terlalu njelimet, karena penontonnya ternyata seperti diberikan ruang lebih untuk menikmati setiap karakter dan jalan cerita, sedangkan yang lainnya sibuk tertawa geli karena begitu banyak hal yang mampu membangkitkan memori akan masa muda.

Percakapan yang simpel dan penuturan yang sederhana namun kuat memang menjadi ciri Pidi Baiq dalam menulis. Hal ini juga ditemukan di seluruh karyanya dalam seri Dilan dan Milea.

Kesederhanaan penuturan dalam film ini yang juga akhirnya mampu membuat penontonnya penasaran untuk membaca bukunya. Satu lagi tepuk tangan yang meriah untuk Pidi Baiq dalam menjalankan ‘strategi marketing’-nya, karena nyatanya, cerita dalam bukunya (seperti umumnya film yang disadur dari buku) memiliki jiwa yang kuat, diceritakan dengan lebih kompleks dan detail sehingga mampu mengikat pembacanya.

Buat kamu yang suka film yang butuh konsentrasi berpikir, mungkin film ini bukan pilihan kamu. Tapi gak ada salahnya refreshing dan keluar dari zona nyamanmu.

5. Koleksi Meme yang Viral

Bahkan jauh sebelum filmnya tayang, trailer dan memenya sudah bertebaran di semua sosial media dan alat komunikasi digital. Berbagai akun media sosial seperti berlomba-lomba membuat parodi meme yang menampilkan tokoh Dilan dan Milea. Hal ini tentunya adalah strategi marketing yang sukses disuguhkan melalui kolaborasi apik antara Falcon Pictures, Max Pictures dan Maxima Pictures dalam membawa calon-calon penonton film Dilan 1990 akhirnya membeli karcis dan duduk di dalam bioskop.

Lucu. Sampai-sampai akun resmi TMC Polrestabes Bandung ikut-ikutan memposting potongan film dari Dilan 1990 dan mengaitkannya dengan pelanggaran yang dilakukan Dilan dan Milea. (sumber: Instagram @tmcpolrestabesbandung)

 

Ditjen Pajak tidak mau ketinggalan, dong. Mempromosikan orang-orang untuk bayar pajak pun bisa meminjam kalimat ikonik dari film Dilan 1990

 

Bukan cuma meme Dilan dan Milea yang diambil dari film aslinya, namun juga bejibun meme parodi yang diperankan oleh kreator konten dari berbagai pelosok Indonesia turun dipost dan direpost sebanyak-banyaknya oleh netizen. Buat yang tidak suka mungkin hanya menjadi lelucon, tapi nyatanya hal ini adalah ‘earn media‘ yang menjadi promosi gratis bagi film Dilan 1990. Meme mana yang menurut kamu paling kocak dan seru?

Siapa yang tidak kenal putra Presiden kita, Kaesang. Ia pun sempat membuat meme Dilan untuk mengiklankan usahanya

 

Scene Iconic Dilan dan Milea yang dibuat meme oleh netizen (sumber: google)

6. Memunculkan Kenangan Lama

Bukan cuma penonton dari kalangan awam yang terjangkit virus Dilan 1990. Namun dari kalangan selebriti juga ikutan memposting foto-foto lama dan membandingkan cerita mereka dengan kisah Dilan dan Milea dengan diselipkan sedikit kalimat-kalimat khas dari cerita Dilan. Seperti misalnya “Jangan rindu, berat. Biar aku saja”, atau “Aku belum mencintaimu, ga tau kalo sore. Tunggu saja”, atau “Nama kamu Milea? Aku ramal nanti kita akan bertemu di kantin”, dan lain-lainnya. Apakah kamu salah satunya yang pernah ngelakuin hal ini?

Bukan cuma netizen kayak kita-kita, Rossa pun ikut-ikutan dan kerap memposting di akun instagramnya dengan hashtag #korbandilan

 

Ikutan jadi Korban Dilan, Luna Maya mengunggah di instagram story-nya setelah nonton Dilan 1990

7. Kesuksesan Pemerannya dalam Mendalami Karakter

Sebelum filmnya tayang, pemilihan pemeran sempat menjadi polemik karena banyak fans buku Dilan yang tidak menyetujui Iqbaal Ramadhan untuk memerankan sosok Dilan yang telah hidup terlebih dahulu di dalam imajinasi pembacanya. Begitu banyak nama-nama yang disodorkan kepada Pidi Baiq yang dianggap lebih pantas memerankan sosok ini. Tidak terlalu banyak yang berkomentar mengenai pemeran Milea, karena memang Dilan-lah yang memegang peran paling penting di dalam cerita ini.

Komentar netizen yang tidak setuju Iqbaal memerankan karakter Dilan

 

Opini netizen yang akhirnya menyetujui bahwa Iqbaal memang orang yang tepat untuk memerankan Dilan

 

Figur Iqbaal Ramadhan terlebih dahulu sudah melekat sebagai salah satu personil boyband CJR, sehingga sulit bagi penontonnya untuk membayangkan sosok yang tadinya begitu muda dan imut memerankan figur Dilan yang cuek, nakal tapi romantis. Nyatanya, setelah filmnya tayang, banyak penonton yang seakan sepakat bahwa Iqbaal adalah orang yang sangat tepat memerankan sosok Dilan. Hal ini pun didukung oleh keterangan dari Pidi Baiq bahwa pemilihan Iqbaal sebagai Dilan disetujui langsung oleh tokoh Milea yang asli, yang dianggap paling mengenal sosok Dilan yang sebenarnya.

Postingan Iqbaal di akun instagramnya ini menuai puluhan ribu komentar karena dianggap sangat sweet. Netizen pun mendukung mereka menjadi sepasang kekasih di kehidupan nyata.

Apalagi chemistry antara Iqbaal dan Vanesha terlihat sangat kuat baik di dalam maupun di luar kamera. Sehingga bukan saja di dalam film fans-nya shipping kedua pemeran ini, namun sampai ke kehidupan nyata, bahwa mereka ingin Iqbaal dan Vanesha menjadi sepasang kekasih. Selain itu, bukan cuma ngefans dengan sosok Dilan dan Milea, para penontonnya beralih menjadi fans Iqbaal dan Vanesha.

8. Peer Pressure untuk Ikut Tren

Dengan begitu banyaknya postingan dan komentar mengenai film ini, siapa di antara kamu yang tadinya tidak mau ambil pusing dengan viralnya film Dilan 1990, hingga akhirnya memutuskan untuk ikutan nonton –hanya sekedar untuk memenuhi rasa penasaran atau sekedar ingin dapat memahami percakapan dari teman-teman kamu yang udah nonton filmnya?

Mulai dari percakapan di whatsapp group yang sibuk membicarakan film ini atau sekedar menyelipkan punchline dari film Dilan, pasti ada beberapa persen yang akhirnya memutuskan untuk ikut nonton, hanya dengan alasan ingin mengerti apa yang dibicarakan temannya, atau ingin ikut dalam diskusi mengenai film tersebut.

Belum lagi film ini juga katanya enak untuk dinikmati beramai-ramai atau pun sekedar dengan pasangan masing-masing. Ajakan nobar jadi salah satu agenda yang kerap dilontarkan, sehingga secara logika, pasti ada satu atau dua dari beberapa jumlah grup pertemanan yang tadinya tidak tertarik, namun ‘terpaksa’ ikut atas dasar pertemanan.

Yes, in digital era where people are posting every single thing in their lives, tentunya memberi impact promosi gratis untuk apapun yang mereka posting. Hal ini juga terjadi dalam kasus film Dilan 1990.

9. Penasaran dengan rasanya digombalin

Yap, masih berkutat dalam kekuatan karakter Dilan dan Milea, salah satu hal yang membuat film ini terbilang sukses adalah emotional sensation yang dirasakan penontonnya dan ingin ikutan terjun masuk ke dalam dunia Dilan dan Milea di tahun 90-an. Mereka ingin merasakan gimana rasanya menjadi Dilan dan gimana rasanya menjadi Dilan. Hal ini memberikan efek sudut pandang baru dan frame of reference dari setiap penontonnya (dan pembaca bukunya) untuk mengaktualisasikan hal itu ke dalam kehidupan pribadi mereka.

Mulai dari cewek-cewek yang ingin ngerasain jadi Milea, dan cowok-cowok yang karena tahu betapa cewek-cewek memuja sosok Dilan, maka mereka mencoba bertransformasi menjadi sosok Dilan. Apakah hal ini bisa kamu lihat di sekitarmu?

Demam Dilan memang benar adanya!

10. Akhir cerita Dilan dan Milea yang bikin gemes

Ini memang berhubungan dengan spoiler rangkaian kisah Dilan dan Milea. Namun di dalam triloginya pun dan dari berbagai media sudah dapat kita ketahui bahwa kisah Dilan dan Milea asli pada akhirnya tidak berlanjut ke jenjang yang lebih jauh. Namun kisah romantisnya yang sangat sederhana seperti bisa direlevansikan ke dalam cerita kita dahulu. “Oiya, gue pernah punya pengalaman kayak gini” yang mungkin juga sama seperti kisah Dilan dan Milea, cuma jadi kenangan terindah yang pernah ada. So, siapa Dilan dan Milea kamu?


Seperti kita ketahui, fenomena baper sama Dilan dan Milea cuma salah satu sample case dari berbagai film atau karya di dunia creativetainment yang juga banyak menyentuh kehidupan banyak orang secara epik. Seperti lagu Akad dari Payung Teduh misalnya, yang banyak menginspirasi orang-orang untuk segera menikah, dan banyak lagi lainnya. Nah, kita sebagai pelaku dalam industri juga harus cukup jeli untuk melihat kesempatan-kesempatan ini agar karya kita mencapai efek yang sama seperti halnya yang dilakukan oleh Pidi Baiq dan timnya.

Uniknya, semua hal ini bisa kok kamu lakukan melalui HAHO sebagai social networking service di bidang creative dan entertainment. Mulai dari mencari konten cerita yang kuat dari para penulis yang tergabung dalam HAHO, membeli lagu untuk dijadikan soundtrack, memilih pemeran yang cocok, mencari kru yang tepat yang tersebar di seluruh Indonesia, hingga mendekati berbagai perusahaan di bidang creativetainment dan media untuk diajak kerja sama. Gak cuma itu, kamu pun bisa melakukan penjualan tiket sendiri di dalam HAHO.

So, where else should you go, when you can go HAHO!

Comments (0)
Add Comment