Sensasi Vs Prestasi: Potret Dunia Creativetainment Indonesia

Editorial – HAHO Media. Mendongkrak popularitas dengan sensasi bukan metode baru di dunia kreatif dan entertainment. Tapi beberapa tahun terakhir semenjak perkembangan internet, sensasi semakin mudah dan lumrah dilakukan.

Media sosial, contohnya, jadi medium paling populer yang digunakan para selebriti untuk melancarkan sensasi yang mereka buat. Gaya yang mereka gunakan pun beragam.

Mungkin masih hangat di ingatan kita, remaja bernama Awkarin yang curhat tentang putus cintanya lewat vlog pribadinya dan kemudian viral di jagat maya. Sejak saat itu, popularitas Awkarin yang tadinya tidak dikenal orang, seperti bola salju yang menggelinding. Ia pun kebanjiran endorsement, diliput media, menjadi topik perbincangan di jagat maya, hingga akhirnya ia terjun ke dunia musik sebagai penyanyi.

 

sensasi selebriti
Awkarin sebelum dikenal banyak orang seperti sekarang (sumber: instagram)

 

sensasi selebriti
Awkarin yang namanya menjulang dengan berbagai sensasi yang diciptakannya sendiri (sumber: instagram)

 

Ada lagi, rapper pendatang baru yang tiba-tiba menyindir Iwa K dalam sebuah wawancara media online, yang kemudian ditanggapi pelantun lagu “Bebas” ini pun mengeluarkan uneg-unegnya lewat status di salah satu media sosialnya. Entah apa maksud dari rapper pendatang baru tersebut, tapi berkat sensasinya khalayak online akhirnya tertarik dengan kasus ini.

gimmick adalah
Young Lex sebagai artis pendatang baru yang menggunakan gimmick dengan istilah-istilah baru (sumber foto: liputan6.com)

 

Sensasi Lewat Kontroversi

Selain itu, dua artis Tanah Air Raffi Ahmad dan Ayu Tingting juga kerap menjadi bahan perbincangan lewat media sosial. Gak cuma jadi perbincangan, banyak akun-akun yang akhirnya mengkhususkan diri untuk membicarakan mereka. Sebagian orang percaya bahwa sensasi yang meliputi karir mereka adalah benar adanya. Namun tidak sedikit yang beranggapan bahwa yang mereka lakukan adalah sensasi yang sengaja dibangun untuk mempertahankan popularitas mereka di jagat industri hiburan Tanah Air.

Gimmick adalah
Artis Raffi Ahmad dan Ayu Tingting yang kerap menuai sensasi dari setiap tingkah lakunya di media sosial (sumber: instagram.com/raffinagita1717)

 

Selain itu, banyak sekali pelaku industri creativetainment yang mencari sensasi lewat media sosial. Mulai dari pamer kekayaan, mempertontonkan gaya pacaran yang nyeleneh, hingga saling sindir lewat status dan komen. Semakin banyak orang yang komentar di postingan mereka, semakin cepat publikasi mereka tersebar. Selebriti seolah tidak perlu media konvensional untuk mendongkrak namanya, karena disaat mereka jadi topik hangat media sosial, media-media lain juga akan ikut mengangkat nama mereka ke pemberitaan.

sensasi selebriti
Akun Lambe Turah di Instagram yang sering dijadikan acuan sumber berita oleh media massa konvensional untuk mencari berita kontroversial seputar selebriti (sumber: instagram)

Sensasi Vs. Prestasi

Sayangnya kebanyakan dari mereka yang doyan cari sensasi kerap melupakan hakikat sebagai selebriti, yaitu berkarya. Saking sibuknya menjadi tenar, hampir tidak ada karya yang mereka ciptakan. Nggak heran, banyak orang yang melabeli mereka artis sensasi.

Seperti misalnya Petra Sihombing yang jadi korban kejahatan dunia maya, karena foto ciuman bibirnya bersama seorang teman pria tersebar di media sosial mengungkapkan kekesalannya.

“Kita nggak hidup di jaman yang kurang informasi. Semua bisa dicari tahu dan dipelajari. Sampai kapan cuma mau nelen hal yang nggak penting, yang akhirnya cuma untuk nge-posting comment yang sampah? Gw nggak mau klarifikasi apa-apa. Gw cuma mau ngajak kalian mikir. Mana yang seharusnya lebih banyak dibahas supaya industrinya maju. Sensasinya, atau karyanya?,” tulis Petra dalam akun Instagramnya.

 

screen-shot-2016-11-08-at-10-40-14-am

 

Tanpa disadari perilaku artis yang doyan cari sensasi ini memang disukai banyak orang. Akhirnya, berita tentang karya seorang artis jadi kurang laku di internet, terkecuali jika si artis ini berhasil menorehkan prestasinya di kancah internasional, sementara sensasi cenderung lebih seksi untuk dibahas. Orang-orang yang “hidup” di dunia maya seperti mencari kesenangan dari sensasi orang lain, cara mendapatkan hiburan bagi mereka semakin bergeser.

Kamu lebih memilih yang mana, #DoGeneration? Baca berita karena sensasi kontroversialnya, atau tertarik dengan prestasinya? Mari perbaiki industri creativetainment di Indonesia dengan menyumbang karya bukan sensasi.

 


Baca juga:

Banyak yang Salah Kaprah. Gimmick Itu Bukan ‘Settingan‘.

 

 

You might also like