Apreasiasi Seni Kontemporer di Malam Anugerah Jakarta 32°

Di Malam Penghargaan Jakarta 32°, karya seni kontemporer diapresiasi. Bertempat di Gudang Sarinah Ekosistem, acara ini mengumumkan 11 finalis, 5 honorable mention, dan 3 pemenang yang telah diseleksi dari 1.700 lebih karya yang masuk pada masa periode pendaftaran kompetisi 32° Art Award 2017.

Masing-masing karya seni yang terpilih telah melalui penjurian yang dengan kriteria penilaian yang ketat! Kriteria itu meliputi kompleksitas dan kebaruan dari segi gagasan artistik dan tematik, serta eksplorasi medium dan penguasaan teknik seni. Jadi bisa dibilang, mereka adalah karya seni yang beda dari biasa.

Cari tahu soal keseruan acara yang berlangsung Rabu (20/09) lalu sekaligus kenalan dengan para pemenangnya, yuk!

Menampilkan karya-karya kontemporer

Kompetisi 32° Art Award yang diadakan oleh Komplotan Jakarta 32° memang jadi ajang buat seniman-seniman muda unjuk kebolehan. Selama tiga bulan ke belakang, ada 1.700 lebih karya seni yang diterima oleh panitia. Mayoritas dari mereka adalah para mahasiswa yang berkuliah di seluruh penjuru negeri.

Para pemenang kategori Honorable Mention di 32° Art Award. Sumber: Jakarta 32°

Karya-karya mereka pun beragam dari mulai seni rupa, seni visual, sampai konsep proyek seni. Karya dari Adi Sundoro yang berjudul ‘Come Closer to The Sea, misalnya, adalah sebuah karya fotolitografi kertas dan stensil pada plastik mika. Atau karya fotografi dan cetak digital dari Arif Furqan, berjudul ‘Indonesian Randoms‘ yang menampilkan wajah-wajah masyarakat Indonesia pada sebuah buku berbentuk akordion. Karya mereka adalah dua dari lima karya seni yang masuk dalam kategori Honorable Mention dari para dewan juri.

Dinilai secara ketat

Nah, semua karya itu diseleksi secara ketat oleh para dewan juri. Enggak main-main, dewan juri tersebut adalah para penggiat seni tanah air. Mereka adalah Ade Darmawan (seniman dan programer seni), Agung Hujatnikajennong (kurator dan pendidik), Hikmat Darmawan (budayawan dan pengamat budaya populer), Aprina Murwanti (penggiat seni serat dan pendidik), Zinnia Sompie (penggiat desain grafis dan pendidik) serta panitia Komplotan Jakarta 32°C.

Dari 1.700 lebih karya yang masuk, telah terpilih 11 finalis yang memiliki karya seni yang luar biasa. Sumber: Jakarta 32°

Selain tiga pemenang utama, juri juga memilih 11 karya yang mereka nilai punya nilai seni yang unik, kritis, dan tidak klise. Karya seni eksperimental dari Kusno Drajat berjudul Vending Machine adalah salah satunya. Karya bernada kritis ini memodifikasi cara kerja dari vending machine konvensional dan mengubahnya menjadi vending machine untuk produk-produk karya seni. Lain lagi dengan karya berjudul ‘Terkesima’ oleh Muhammad Imran Saputra. Pemuda berusia 24 tahun ini membuat karya unik berupa video looping yang menampilkan seorang pemuda berkacamata hitam yang menunjukkan ekspresi kagum, kaget, dan terpana secara berulang-ulang. Karya unik-unik mereka memang pantas diapresiasi secara tinggi!


Baca Juga: Synchronize Festival 2017: Pesta Musik Multi-Genre Tanah Air


Para Pemenang!

Tiba di pengumuman pemenang! Tiga karya teratas yang dipilih dewan juri ini dinilai telah menunjukkan penjelajahan artistik terkuat dari masing-masing jenis karya maupun medium yang diterima pada kompetisi ini. Di juara tiga, ada Muhammad Sabil yang tampil sebagai pemenangnya. Lewat karya berjudul ‘Sesuatu di Antara Masyarakat – Dihantui Kebutuhan’, Sabil menampilkan lukisan tinta berukuran 400×180 cm yang menampilkan potret masyarakat di kehidupan sosial.

Muhammad Sabil menampilkan kehidupan sosial di masyarakat lewat lukisan di atas kanvas berukuran besar. Sumber: Jakarta 32°

Juri melihat bahwa ada daya emosional kuat yang relevan dengan kehidupan sosial dari karya Sabil. Mereka menilai bahwa karya Sabil mengkritisi relasi jual beli yang terdapat di masyarakat. Karya Sabil adalah pilihan yang sederhana yang menunjukan keberpihakan pada kreasi seni yang humanis.

Karya ‘Sunscript‘ ciptaan Gilang Anom berhasil memikat juri dan menjadikannya sebagai juara ke 2 dalam 32° Art Award.

Beralih ke juara dua, Gilang Anom berhasil menyabetnya dengan karya berjudul ‘Sunscript. Lewat karyanya itu, Gilang bereksperimen dengan menggabungkan seni performans dan seni lukis. Pemuda berusia 20 tahun ini melukis motif-motif abstrak pada bentangan kain dan kayu, serta menjadikan dirinya sebagai kanvas dan kuas juga. Kata juri, ada kebaruan, kejujuran, dan keberanian dalam seni eksperimental dalam karya yang Gilang buat sehingga menjadikannya sebagai juara nomor dua!

Inilah sang juara! Garyanes Yulius lewat karyanya berjudul ‘Sastra Lintas Rupa‘ dipilih oleh para juri untuk menjadi juara pertama. Karya Garyanes adalah sebuah platform seni yang memadukan praktik interdisiplin dari sastra, desain, seni rupa, sejarah, dan pengarsipan. Alumni Institut Kesenian Jakarta ini mempersembahkan platformnya untuk Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B Jassin di Taman Ismail Marzuki. Lewat platform ini, Garyanes berkolaborasi dengan para penggiat seni visual untuk mengubah karya sastra menjadi bentuk visual yang nantinya akan menjadi media promosi bagi PDS H.B Jassin.

Garyanes menampilkan karya berupa platfotm seni yang berusaha menggiatkan Pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin. Sumber: Jakarta 32°

Menurut juri, proyek yang dibuat pemuda berusia 23 tahun ini penting karena memiliki dampak sosial, budaya, dan kesejarahan yang besar. Maka, dukungan yang diberikan diharapkan dapat menghadirkan keberlanjutan manfaat dan memperpanjang kesempatan untuk mengait rantai disiplin ilmu, seniman muda, serta narasi sejarah lainnya. Hadiah 100 juta pun jatuh untuk karya ciptaan Garyanes ini. Selamat!

Para juara 32 Art Award 2017! Sumber: Jakarta 32°

***

Selamat bagi para pemenang! Jangan lupa untuk terus menjadi #DoGeneration yang selalu aktif dalam berkarya!

Jangan lupa, kamu juga bisa lihat profil lengkap pemenang dengan mengklik nama mereka dalam artikel ini dan langsung berinteraksi melalui HAHO.CO.ID!


Baca di Sini:

BeautyFest Asia: Pembuktian Eksistensi Beauty Influencer

Albizia Akbar: