Andrian Ishak, Sang Chef Molecular Gastronomy

Memasak bagi Chef Andrian Ishak awalnya adalah sebuah hobi. Tapi hobi yang terus ditekuni Andrian tersebut kemudian menuntunnya menjadi satu-satunya chef berbakat di Indonesia yang menggunakan teknik gastronomi molekuler. Dari tangan Andrian, lahir kreasi makanan yang bikin penikmatnya berdecak kagum.

Molecular gastronomy merupakan teknik memasak dengan menggabungkan memasak dan ilmu fisika dan kimia. Konsep memasak yang menganut slow dan low, yaitu proses pembuatannya agar lambat dan menggunakan low temperature.

Bagaimana perjalanan Chef Andrian Ishak sampai akhirnya dikenal di kalangan masyarakat sebagai pengusung molecular gastronomy pertama di Indonesia?

Menekuni teknik molecular gastronomy secara otodidak

Chef Andrian Ishak yang merupakan alumnus Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung ini pertama kali berkenalan dengan dunia molecular gastronomy lewat internet. Pertama ia menemukan restoran El-Bulli sebagai salah satu restoran terbaik di dunia. Restoran yang terletak di Catalonia, Spanyol tersebut menawarkan menu molecular gastronomy. Dari situ, Andrian pun mulai tertarik mempelajarinya secara otodidak. Ia belajar dari buku-buku karya maestro molecular gastronomy seperti Modernist Cuisine karya Ferran Adria dan On Food and Cooking karya Harold McGee. Ada satu sosok chef molecular gastronomy yang ia kagumi, Heston Blumenthal asal Inggris, seperti misalnya semangat Heston yang tidak pantang menyerah saat restorannya dipaksa ditutup karena banyak yang mengaku sakit setelah makan masakannya.


Baca Juga: 6 Sekolah Culinary Art yang Bikin Kamu Viral seperti Gordon Ramsay!


Hal itulah yang ia turunkan ke dirinya, semangat menyajikan masakan-masakan Indonesia dengan konsep molecular gastronomy. Sejak awal, Chef Andrian Ishak mantap menggeluti molecular gastronomy pada masakan Indonesia. Meski tidak ada referensi masakan Indonesia yang menggunakan teknik ini, namun dengan bermodal kesukaannya memasak dibarengi dengan kreativitasnya, pelbagai makanan Indonesia terus ia kreasikan dan disajikan dengan cara yang berbeda.

Restoran Namaaz Dinning dan laboratorium praktik Andrian

Sambil belajar ia mempraktikkan ilmunya ke dalam menu-menu di Restoran Namaaz Dining miliknya yang di-launch pada Mei 2012. Dapur restoran ini sekaligus jadi laboratorium Andrian tempat ia bereksperimen. Karena molecular gastronomy diolah dengan menggunakan peralatan dan bahan yang biasa dipakai di laboratorium fisika atau kimia membuat teknik ini sedikit berbahaya. Beberapa alat juga harus ia datangkan dari luar negeri karena tidak tersedia di Indonesia. Untuk itu rasanya tidak mungkin memboyong alat-alat tersebut ke rumahnya, Chef Andrian Ishak pun bereksperimen di restorannya.

Menu-menu yang dihidangkan di Namaaz ini unik-unik diantaranya adalah Kertas dan Pensil, rokok cokelat, Anak Mas, Karet Gelang, Balon Gembira, Pohon Uang, dan Kertas Doa. Apa yang pengunjung restoran lihat tidak sama seperti apa yang mereka rasakan dalam memakan. Dan itu jadi bagian unik yang coba Andrian tawarkan.

Sejak launching, restoran Namaaz menjadi pembicaraan banyak orang dengan respon-respon yang positif. Restoran yang hanya menampung 29 orang maksimal ini selalu penuh.

Meski karya masakannya diapresiasi banyak orang, Andrian tidak pernah berhenti untuk belajar dan berkesperimen. Menurutnya, siapa saja orang bisa menjadi chef terbaik molecular gastronomy tanpa harus memiliki keahlian khusus. Yang diperlukan hanya modal minat dan keinginan ingin terus belajar.

“Sama sekali tidak perlu keahlian khusus, yang penting minat dulu. Kesabaran yang cukup tinggi dalam memasak, karena pada dasarnya  teknik masak ini membutuhkan eksperimen dan waktu masak cukup lama. Imaji harus selalu liar, tak terbatas,” jelas Andrian seperti dilansir Femina.

Buat kalian #DoGeneration yang sekarang sedang menekuni profesi sebagai chef, yuk daftarkan diri kamu di HAHO. Siapa tahu kalian beruntung dihubungi oleh tim HAHO buat diliput dan diulas profilnya di HAHO Media!


Baca Juga:

Sekolah Chef versi HAHO, Ini Caranya!

You might also like