Film Indonesia yang Sukses Mendunia

Film Indonesia dan karya seni Tanah Air lainnya tengah menjadi sorotan dunia. Hal ini terlihat dari nama anak bangsa yang mulai menghiasi dunia dengan karya terbaiknya hingga menorehkan prestasi secara internasional. Secara khusus hal ini terlihat dalam industri perfilman.

Gemerlap dan dominasi industri perfilman Hollywood memang tak terbantahkan lagi. Hampir seluruh publik, baik sineas maupun penikmat film sepakat bahwa Hollywood adalah kiblat utama perfilman dunia. Bahkan atensi masyarakat Indonesia terhadap film Hollywood dapat dikatakan besar. Hampir di setiap film Hollywood yang masuk ke teater tanah air selalu menjadi pilihan pertama untuk ditonton oleh masyarakat kita.

Kita patut berbangga hati, karena dalam kurun waktu hampir dua dekade terakhir, film Indonesia telah sukses mencuri atensi dan mendapatkan pengakuan oleh publik luar negeri. Berikut kami pilihkan 5 film Indonesia yang sukses mencuri perhatian dunia.

  1. Daun Di Atas Bantal (1998)

daun-diatas-bantal

Film ini digarap oleh sutradara Garin Nugroho, dan diperankan oleh Christine Hakim (yang juga memproduseri film ini, di bawah bendera Christine Hakim Film). Film yang menceritakan tentang tiga orang anak jalanan, yaitu Sugeng, Heru, dan Kancil (diperankan oleh mereka sendiri), tentang kehidupan sehari-hari mereka di Yogyakarta. Meskipun hidup dalam kemiskinan, berasal dari rumah tangga yang pecah, mereka ingin melepaskan diri dari kemiskinan dan berharap memperoleh pendidikan. Mereka mengemis, menjual ganja, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan serabutan lainnya. Mereka dibantu oleh Asih (Christine Hakim), seorang pelayan toko yang membiarkan mereka tinggal di tempatnya bekerja. Setiap malam ketiga anak itu selalu berkelahi untuk memperebutkan bantal daun kepunyaan Asih. Namun harapan mereka akhirnya pupus, ketika takdir mereka berakhir tragis.

Daun di Atas Bantal juga dirilis dalam bahasa Inggris dengan judul Leaf on a Pillow. Berikut adalah penghargaan luar negeri yang berhasil didapatkan film ini:

  • Asia-Pacific Film Festival – 1998 – Best Actress – Christine Hakim
  • Asia-Pacific Film Festival – 1998 – Best Film
  • Singapore International Film Festival – 1999 – Unggulan dalam kategori Silver Screen Award Best Asian Feature Film – Garin Nugroho
  • Tokyo International Film Festival – 1998 – Special Jury Prize – Garin Nugroho
  1. Pasir Berbisik (2001)

pasir-berbisik

Kolaborasi antara Dian Sastrowardoyo dan artis senior Christine Hakim membuat film Pasir Berbisik berhasil menjadi salah satu film Indonesia yang mendapatkan perhatian dunia perfilman Internasional.

Film yang berkisah tentang hubungan Berlian (Christine Hakim) dan anaknya, Daya (Dian Sastrowardoyo), yang sejak kecil ditinggalkan oleh ayahnya, Agus (Slamet Rahardjo), yang pergi tanpa kabar berita. Sikap Berlian, yang membuka warung jamu dan suka membantu dukun beranak, sangat protektif terhadap anaknya yang beranjak remaja. Daya sering berkhayal bertemu dengan ayahnya. Daya juga suka menempelkan telinganya ke pasir untuk mendengar “bisikan”.

Kekuatan cerita yang begitu tajam serta pesona keindahan alam Gunung Bromo yang begitu ditonjolkan, membuat film Pasir Berbisik besutan Nan Achnas ini juga berhasil meraih banyak perhargaan perfilman kelas dunia. Berikut daftar penghargaan yang berhasil diraih:

  • Asia-Pacific Film Festival  – 2001 – Best Cinematography Award
  • Asia-Pacific Film Festival  – 2001 – Best Sound Award
  • Asia-Pacific Film Festival – 2001 – Jury’s Special Award For Most Promising Director
  • Festival Film Asiatique Deauville – 2002 – Best Actress – Dian Sastrowardoyo
  • Festival Film Antar Bangsa Singapura ke-15 – Best Actress – Dian Sastrowardoyo

 

  1. LASKAR PELANGI (2008)

laskar-pelangi

Laskar Pelangi adalah sebuah film garapan sutradara Riri Riza, yang diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Andrea Hirata. Skenario untuk film ini ditulis oleh Salman Aristo dibantu Riri Riza dan Mira Lesmana dengan mengikuti novel aslinya. Menurut Andrea Hirata selaku penulis aslinya, dengan diadaptasinya Laskar Pelangi menjadi sebuah film, pesan-pesan yang terkandung di dalam bukunya diharapkan dapat lebih menyebar ke khalayak yang luas.

Film ini bercerita tentang kehidupan sepuluh anak dari keluarga miskin yang bersekolah di sebuah sekolah di Belitung yang penuh dengan keterbatasan. Kesepuluh anak ini adalah Ikal (Andrea Hirata), Lintang (Lintang Samudra Basara), Sahara (N.A. Sahara Aulia Fadillah), Mahar (Mahar Ahlan), A Kiong alias Chau Chin Kiong (Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman), Syahdan (Syahdan Noor Aziz), Kucai (Mukharam Kucai Khairani), Borek (Samson), Trapani (Trapani Ihsan Jamari), Harun (Harun Ardhli Ramadan). Mereka bersekolah dan belajar pada kelas yang sama dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP, dan menyebut diri mereka sebagai Laskar Pelangi. Pada bagian-bagian akhir cerita, anggota Laskar Pelangi bertambah satu anak perempuan yang bernama Flo, seorang murid pindahan. Keterbatasan yang ada bukan membuat mereka putus asa, tetapi malah membuat mereka terpacu untuk dapat melakukan sesuatu yang lebih baik.

Penuh dengan nuansa lokal Pulau Belitung, mulai dari lokasi syuting, penggunaan dialek Belitung, hingga aktor-aktor yang menjadi anggota Laskar Pelangi juga adalah anak-anak asli daerah yang terkenal akan keindahan pantainya itu. Ajang film internasional yang memutar Laskar Pelangi antara lain di Barcelona Asian Film Festival (2009), Singapore Internasional Film Festival (2009), 11th Udine Far East Film Festival di Italia (2009), dan Los Angeles Asia Pacific Film Festival (2009) di Amerika Serikat. Berikut penghargaan dan nominasi dari luar negeri yang berhasil didapatkan:

  • Internasional Festival of Films for Children and Young Adults (Iran) – 2008 – The Golden Butterfly Award: Best Movie
  • Berlin International Film Festival – 2009 – Nominated: Best Movie
  • Asian Film Awards (Hongkong) – 2009 – Nominated: Best Movie
  • Asian Film Awards (Hongkong) – 2009 – Nominated: Best Editor

 

  1. THE RAID (2012)

the-raid

Adalah film ketiga karya Gareth Evans, yang bisa dibilang sukses besar baik di dalam Negeri maupun Luar Negeri. Pertama kali dipublikasikan di Toronto International Film Festival (TIFF) 2011 sebagai film pembuka untuk kategori Midnight Madness. The Raid juga menjadi salah satu film Indonesia yang diputar untuk “A Window of Asian Cinema” pada Busan International Film Festival 2011. The Raid menjadi film penutup pada Indonesia International Fantastic Film Festival (INAFFF) 2011. Ketika diputar pada penyelenggaraan Sundance Film Festival 2012, film ini mendapatkan sambutan hangat dari penggemar dan kritikus film Amerika. Distribusi Internasional untuk film ini dipegang oleh Nightmare Distribution, dan akhirnya Sony Pictures Classic Worldwide Acquisition turut membeli hak tayang untuk wilayah Amerika Utara dan Amerika Latin, dan akhirnya membeli hak remake The Raid melalui anak perusahaannya (Screen Gems).

Film yang diperankan oleh Iko Uwais, Joe Taslim, Donny Alamsyah, Ray Sahetapi, Yayan Ruhian, dan sederet aktor lainnya ini menyuguhkan sebuah film aksi yang tidak hanya dikemas dengan unsur-unsur modern, namun juga menonjolkan Pencak Silat dalam koreografi laganya. Dengan setting di sebuah daerah kumuh Jakarta, terdapat sebuah gedung apartemen terlantar yang tak tertembus dan menjadi rumah aman bagi gangster, penjahat, dan pembunuh yang paling berbahaya. Blok apartemen kumuh tersebut telah dianggap tak tersentuh, bahkan bagi perwira polisi paling berani sekalipun. Semuanya berubah ketika sebuah tim polisi bersenjata dan taktik khusus berjumlah 20 orang ditugaskan untuk menyerbu bangunan tersebut dan mengakhiri teror kejahatan di sana untuk selamanya.

Tidak butuh waktu lama, The Raid langsung mendapat tempat di hati para pecinta film Amerika dan berhasil menjadi film Indonesia pertama yang masuk Box Office Amerika Serikat. Yang membanggakan lagi, film ini bertengger pada urutan 11 sebagai film yang paling banyak ditonton di bioskop negeri Paman Sam tersebut. Bukan hanya itu, film ini juga tayang di beberapa wilayah Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, dan Asia.

Berikut daftar penghargaan Internasional bergengsi yang berhasil didapatkan oleh film ini:

  • Toronto International Film Festival (TIFF) – 2011 – The Cadillac People’s Choice Midnight Madness Award
  • Salah satu dari 11 film yang menjadi Spotlight dalam Festival Film Sundance 2012
  • Terpilih menjadi penutup sesi FrightFest dalam Festival Film Glasgow 2012
  • Festival Film Internasional Dublin Jameson – 2012 – Audience Award
  • Festival Film Internasional Dublin Jameson – 2012 – Dublin Film Critics Circle Best Film
  • 6ème Festival Mauvais Genre di Tours, Prancis – 2012 – Prix du Public
  • 28th Imagine Film Festival – 2012 – Sp!ts Silver Scream Award

 

  1. A COPY OF MY MIND (2015)

 

a_copy_of_my_mind

Film Drama Indonesia A Copy Of My Mind bercerita tentang seorang wanita yang bekerja sebagai pekerja di sebuah salon kecantikan yang ada di Jakarta. Wanita itu bernama Sari (Tara Basro). Di suatu hari, Sari bertemu dengan seorang pria bernama Alex (Chico Jericho) yang bekerja sebagai pembuat subtitle DVD bajakan. Pertemuan mereka berdua menimbulkan benih asmara, dan membuat mereka cepat jatuh cinta. Namun hubungan cinta yang ingin dilangsungkan terancam gagal karena Alex menemukan sebuah rekaman politik hitam dari seorang calon presiden. Ia dengan cepat menjadi buruan calon presiden tersebut agar aibnya tidak terbongkar.

Film yang disutradarai oleh Joko Anwar, (seorang sineas yang terkenal lewat film Janji Joni, Kala, Pintu Terlarang, Modus Anomali) memang selalu menempatkan film-film karyanya tak hanya untuk pasar dalam negeri namun juga untuk pasar luar negeri. Diputar perdana secara global pada tahun 2015 lalu di Toronto International Film Festival (TIFF), Busan International Film Festival, dan Venice Film Festival. Bahkan pada hari pertama pemutaran filmnya, Joko Anwar dibuat haru dengan ramainya antusias penonton yang antre untuk menonton filmnya. Hal ini terlihat dari celoteh melalui akun twitternya @JokoAnwar: “Pas sampe bioskop di Toronto Film Festival liat antrian panjang banget. Ternyata antri A Copy of My Mind. Mewek gue”. Film ini ditayangkan di Indonesia bulan Februari 2016. Bahkan yang lebih membanggakan lagi, film ini juga bekerjasama dengan salah satu rumah produksi raksasa perfilman Korea Selatan, CJ Entertaintment.

Berikut ini daftar penghargaan dan nominasi internasional dari film A Copy of My Mind:

  • Jogja-NETPAC Asian Film Festival – 2015 – Geber Award
  • Jogja-NETPAC Asian Film Festival – 2015 – Nominated: Golden Hanoman Award
  • Venice Film Festival – 2015 – Nominated: Venice Horizons Award Best Film

 

Nah, gimana? Membanggakan bukan?

Itulah 5 dari sekian banyak film-film Tanah Air yang mendapatkan perhatian dari publik internasional. Diharapkan kedepannya, sineas-sineas muda Indonesia dapat terus melanjutkan tren positif, membawa kembali perfilman Indonesia untuk dapat menjadi raja, termasuk industri entertainment tak hanya di Negeri sendiri, namun juga di kancah Internasional.

Maju terus perfilman Indonesia!

Empowering #DoGeneration

 


Baca juga:

Sensasi Perang yang Sesungguhnya di Film Dunkirk

You might also like