Yang Perlu Diperhatikan Saat Memasarkan Musik Secara Digital

Memasarkan musik secara digital atau jual lagu online di Indonesia sudah jadi hal yang lumrah beberapa tahun belakangan ini.

Meski sebelumnya, revolusi digital ini sempat menuai kontra, tapi lama kelamaan semua orang yang bekerja di industri musik perlahan mengikuti alur digital dan mulai merasakan manfaatnya.

Di era digital, musisi pendatang baru ataupun senior sama-sama punya kesempatan untuk menyalurkan karyanya lewat pasar digital atau digital store. Digital store ini juga semakin banyak, jika dulu digital store dipelopori oleh iTunes Stores, sekarang sudah ada digital store dan music streaming seperti Spotify, Joox dan Deezer sebagai medium jual lagu online.

Lewat digital store ini jual lagu online juga sangat mudah, tidak terbatas waktu dan jarak. Musik bisa dikonsumsi oleh masyarakat dunia. Dengan kata lain kesempatan serta persaingan musisi di era digital ini jadi sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin dan mau memanfaatkan digital sebaik mungkin.

Seperti band asal Jakarta, Indonesia, Eirene, yang  bisa dibilang sukses memanfaatkan pemasaran musik digital. Eirene berhasil menembus chart Indonesia Viral 50 di posisi 5 hanya dalam waktu 7 hari setelah single pertama mereka “Epilog” dirilis.

“Digital ini persaingannya terbuka banget, siapa saja punya kesempatan yang sama, kayak band kita (Eirene) ini baru rilis single tanggal 28 Februari lalu tiba-tiba aja bisa satu chart sama Linkin Park di Indonesia Viral 50 versi Spotify kan gila! Nggak nyangka banget,” ujar Rian Sidik, bassist band Eirene saat berbincang dengan tim HAHO, Selasa (7/3).

Tapi, nih, ngomong-ngomong apa saja sih yang udah dilakukan band yang digawangi oleh Boniex Noer (vokal), Faisalt Rian (gitar), Rian Sidik (bas), dan Orico Frans (drum) sampai bisa berhasil memecahkan rekor Spotify buat pendatang baru di kancah musik Indonesia?

“Sebenernya nggak ada ramuan apa-apa, dari awal kita di Eirene ini emang mau jadiin digital sebagai main core kita menyampaikan karya kita. Kebetulan juga masing-masing personel punya basic digital karena kita selain nge-band kerjanya ada yang jadi jurnalis ada yang tim kreatif dan di startup juga. Dari pengalaman yang kita punya akhirnya ya kita aplikasiin nih di Eirene,” terang Rian. “Jadi musisi di era digital bukan cuma bisa bikin musik bagus, itu udah kewajiban, tapi kita harus punya keahlian lain dan juga mau mempelajari digital sih,” imbuhnya.


Baca Juga:  5 Kesalahan Yang Sering Dilakukan Band Baru


Fokus ke konten bukan ke media sosialnya

Eirene band asal Jakarta berbagi pengalaman soal pemasaran musik secara digital

Sebagai tips pertama jual lagu online, sebelum single dirilis Eirene membuat gimmick reaksi musisi dan public figure setelah mendengarkan lagu Epilog di Instagram dan YouTube. Ini jadi salah satu bagian dari strategi memasarkan musik mereka secara digital. Narasumber sengaja diperdengarkan materi album Eirene untuk kemudian memberikan kesan mereka.

“Sebenarnya gimmick yang kita buat kan bukan hal baru, cuma dengan sedikit twist, kayak kita bikin thumbnail-nya senada, terus nggak cuma musisi yang related dengan band kita tapi ada Cak Lontong juga yang ikutan ngasih kesan, jadi kelihatannya beda dan impact-nya kerasa,” papar cowok yang juga dikenal sebagai jurnalis musik di Majalah Hai ini.

Sejak resmi aktif di sosial media awal Februari sampai dirilis, Eirene mendapatkan lebih dari 1000 followers aktif secara organik.

Social media itu alat yang gampang dan gratis buat promoin karya, tapi kita tetep harus punya konten yang related dan kreatif bikin konten agar menarik,” ujar Rian.

Kerjasama dengan label digital

Bagaimana karya musik kita bisa nongol di Spotify, iTunes, Joox atau Deezer? Ada anggapan kalau memasarkan musik secara digital itu ribet banget prosedurnya.

“Sebenarnya kalau lo punya keinginan untuk nyari tahu dunia digital mau menggali itu pasti bisa nggak susah. Kalau Eirene kebetulan kita kerjasama dengan label digital di luar negeri dan itu yang ngurusin gitaris kita Faisal yang kebetulan udah pernah punya pengalaman. Secara gambaran umum gue bisa terangin, kita ngerekam dalam format digital, siapin cover lagu dan kita kirim. Waktu itu kita bayar nggak sampai 200 ribu, lagu kita udah didistribusiin kayak ke iTunes, Spotify, Deezer dan lain-lain untuk jangka waktu satu tahun,” paparnya.

Tidak hanya maintain social media tapi juga mengedukasi

Eirene meyakini bahwa dari semua orang yang mendengarkan musik mereka, yang paling banyak menyumbang adalah engagement dari Instagram. Rian dan personel lain membalas dengan sabar pertanyaan-pertanyaan dari penggemarnya di Instagram.

“Dari kita ngejalanin promosi secara digital, ternyata ada hal yang menarik, 50 persen dari followers kita nggak ngerti cara mendengarkan lagu lewat Spotify. Kalau ada yang bilang anak millenials melek teknologi tapi masih banyak yang gagap digital. Masih ada yang minta link donlotnya. ada yang nggak bisa denger. Ya kita akhirnya balesin satu-satu ngajarin, sampai kita juga bikinin infografis simpel banget. Jadi kita juga bantu mengedukasi juga bahwa dengerin musik gampang banget kok, daripada lo cari bajakan, mending lo ke music streaming yang kita udah kerjasama,” jelasnya lagi.

Tidak berhenti sampai di situ, Eirene juga sudah menyiapkan beberapa ‘mainan baru’ di Instagram. Serta rencananya akhir Maret ini, Eirene akan membuat video musik “Epilog” dan dirilis di YouTube.


Baca di sini:

5 Tips Jadi Manager Band yang Sukses

You might also like