Tips Foto Jurnalistik Ala ‘Obama KW’ Ilham Anas

Foto jurnalistik di era teknologi serba canggih ini seolah mudah, padahal tidak juga, loh!

Belakangan semua orang seolah bisa menjadi pewarta foto dengan menyuguhkan foto bergaya foto jurnalistik. Berkat kecanggihan teknologi kamera yang menempel di smartphone semua orang bisa menangkap peristiwa dan diunggah ke sosial media lengkap dengan caption kejadian.

Mundur ke beberapa tahun sebelum smartphone dan media sosial menguasai setengah kehidupan manusia, foto jurnalistik banyak dilahirkan oleh orang-orang yang memang berprofesi sebagai pewarta foto. Hanya segelintir orang yang memang hobi fotografi yang menekuni foto jurnalistik ini.

Bicara tentang foto jurnalistik, sekilas pengertian foto jurnalistik adalah salah satu bentuk jurnalisme yang menggunakan gambar-gambar dalam menyampaikan berita. Foto jurnalistik terbagi tiga yaitu foto berita umum, spot dan esai. Foto spot untuk berita tak terduga seperti bencana alam, teroris, kecelakaan. Foto berita umum misalnya foto pembukaan acara pelantikan. Sedangkan foto esai adalah foto yang menceritakan rangkaian kejadian atau peristiwa.

foto jurnalistik
Ilham Anas, Fotografer senior yang malang melintang sebagai pewarta foto. Terakhir ia bekerja sebagai fotografer di Majalah HAI.

Ilham Anas, fotografer senior yang pernah berkontribusi untuk majalah HAI membeberkan bahwa di era serba cepat dan canggih, fotografer pemula atau yang sudah profesional memiliki tantangan yang cukup berat jika ingin serius mengembangkan karirnya di dunia foto jurnalistik.

Untuk mengetahui lebih jelas apa saja sih yang harus diperhatikan jika kamu ingin serius menekuni dunia fotografi spesifikasi foto jurnalistik, simak tips memotret foto jurnalistik dari fotografer handal Ilham Anas!


Baca di sini: Potret Keindahan Dunia Lewat Tips Fotografi Alam Ini


1. Punya “Mata” yang Baik

Pria yang dikenal sebagai Obama-nya Indonesia ini membeberkan bahwa menjadi fotografer yang baik adalah kita harus memiliki mata yang orang awam tidak miliki.

“Maksudnya orang awam adalah orang biasa bukan fotografer, cenderung melihat secara 3 dimensi, sementara kalau jadi fotografer kita harus bisa melihat secara 2 dimensi. Caranya gimana biar bisa jago memiliki mata fotografer? Banyak latihan!,” ujar Ilham, kepada HAHO, Rabu (4/1/17).

2. Membuat Framing

Ia memberikan contoh latihan sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja untuk melatih “mata” fotografer yang baik. “Sebenarnya cara latihannya bisa dengan cara sederhana, diam dan tutup satu mata. Dari situ kalian bisa melihat 2 dimensi, kedalaman background seperti apa,” terangnya.

“Cara lain adalah membuat framing dengan jari, dua jari atau 4 jari. Bagus atau nggak kalau dipadatkan, kalian nanti bisa ngukur sendiri kira-kira seperti apa angle yang mau kalian ambil,” lanjutnya.

3. Kreatif Menyampaikan Cerita Lewat Gambar

foto jurnalistikLain dulu lain sekarang, jika dulu “pesaing” fotografer jurnalistik masih belum seluas sekarang, jadi kita harus setingkat lebih kreatif dan bekerja keras.

“Sekarang harus lebih fokus mikirnya harus kreatif, harus berjuang lebih keras. Kalau dulu nggak banyak orang punya kamera, jadi hasil foto kita gampang diapresiasi. Harus angle yang kita tangkap lebih bagus, memontem harus lebih bagus, yang penting foto kita harus lebih bercerita dibanding dengan mereka yang pakai handphone,” papar pria yang juga kerap diundang sebagai juri lomba fotografi ini.

4. Bergaul dengan Sesama Fotografer

Bergaul bisa dengan ikut komunitas atau ikut hunting foto bersama fotografer yang sudah lebih berpengalaman.

“Bergaul dengan sesama fotografer, nanti kita bisa dapat insight seputar soal tips trik, etika memotret dan banyak hal. Selain itu, kalau kita kenal nantinya akan memudahkan kita juga. Kalau kalian mau memotret acara nggak kenal sama panitianya pasti kita akan kesulitan kan? Ya sesederhana itu,” jelas pria kelahiran 25 Januari 1974 ini. “Atau kita bisa datang ke pameran foto. Dulu jaman saya kuliah saya dapat tugas sama dosen setiap hari harus melihat 100 foto dari fotografer yang berbeda,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, fotografer berpengalaman dan tidak yang membedakan adalah dia sudah tahu kemana dia akan berdiri untuk mengambil foto dan kemana dia akan bergerak untuk mengabadikan foto yang lain. “Walaupun fotografernya punya kepribadian pendiam atau kaku, saat dia memotret pasti dia sudah tahu akan menyapa siapa, akan bergerak kemana, karena dia pasti punya pergaulan yang cukup luas” ucapnya.

5. Jangan Malas Belajar dan Riset

Fotografer juga harus memiliki wawasan luas dan tidak boleh malas riset. Karena itu sangat dibutuhkan sekali saat kita memotret.

“Di mana pun kita ditugaskan kita harus tahu dulu medannya seperti apa, riset itu penting banget. Jadi selain belajar skill memotret kita juga harus rajin riset. Waktu pengalaman yang berkesan saat bencana (tsunami) di Aceh sebelum pergi saya cari tahu dulu, saya hubungi orang-orang yang saya kenal di Aceh kira-kira lokasi yang bisa saya kirim foto di mana, dan medannya seperti apa, beda lagi kalau kita mau motret kejadian lain misalnya sama kita juga harus tahu keadaannya seperti apa sebelum kita terjun ke sana,” paparnya.

6. Memiliki Kamera yang Mumpuni

foto jurnalistik

Ide kreatif jangan sampai kepentok dengan kamera yang tidak mumpuni. “Percuma ide lo canggih tapi kalau alat lo terbatas, seperti kameranya butut, lensanya jamuran atau lain-lain. Karena memang fotografi itu hobi yang mahal, nggak cukup ide bagus kalau kamera lo butut,” terangnya.

Semoga tips memotret foto jurnalistik yang baik dari Ilham Anas membantu kalian ya, #DoGeneration!


Baca juga:

Tips Manipulasi Foto dengan Adobe Photoshop

You might also like

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More